Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, memastikan bahwa influenza A (H3N2) subclade K atau yang dikenal sebagai sebagai super flu bukanlah virus baru dan tidak bersifat mematikan seperti COVID-19 maupun tuberkulosis (TBC). Dia menegaskan masyarakat tidak perlu panik berlebihan, meski tetap harus waspada dan menjaga kesehatan.
"Jadi, nggak usah khawatir bahwa ini seperti COVID-19 mematikannya. Tidak. Ini adalah flu biasa. Influenza H3N2," kata Menkes Budi dikutip dari Antara pada Sabtu, 3 Januari 2025.
Menurut Budi, virus influenza H3N2 sudah lama beredar dan memiliki karakteristik seperti flu musiman pada umumnya. Penyakit ini bisa menyerang seseorang lebih dari sekali, terutama ketika daya tahan tubuh menurun.
Budi menjelaskan bahwa di negara-negara dengan empat musim, kasus influenza H3N2 biasanya meningkat setiap musim dingin. Namun, di negara tropis seperti Indonesia, lonjakan kasus tidak setinggi di wilayah tersebut.
"Itu sebabnya di negara-negara tersebut ada vaksin influenza setiap tahun yang mereka suntikkan," ujarnya.
Meski tidak berbahaya seperti pandemi COVID-19, Menkes tetap mengingatkan masyarakat untuk menjaga imunitas tubuh. Ia menekankan pentingnya istirahat cukup, olahraga teratur, serta pola hidup sehat agar tubuh mampu melawan virus secara alami.
"Kalau immune system kita bagus, itu kita bisa mengatasi sendiri. Tubuh kita karunia Tuhan ini luar biasa. Ini sudah ada tentaranya sendiri yang melawan virus-virus itu," kata Budi.
62 Kasus Super Flu
Meski demikian, pemerintah tetap melakukan surveilans dan pelaporan secara ketat. Hingga akhir Desember 2025, tercatat sebanyak 62 kasus influenza A (H3N2) di delapan provinsi, dengan jumlah terbanyak di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat.
Widyawati memastikan seluruh varian yang ditemukan merupakan varian yang sudah dikenal dan bersirkulasi secara global, serta terus dipantau melalui sistem surveilans WHO.
